Category Archives: Ajaran

Anusaya

 

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

“Janganlah terus menggunakan pikiran untuk memikirkan segala hal, karena ia belum pernah diistirahatkan. Tetapi apabila hal-hal jahat muncul, maka seharusnya gunakan pikiran untuk memeriksanya” –  Saṁyutta Nikāya I, 14.

Dua Macam Keadaan

Dalam diri seorang manusia, seperti kita ketahui, ada dua hal yang saling bertentangan, yaitu keadaan yang baik (kusala) dan yang buruk (akusala). Dua keadaan ini masing-masing membawa dampak yang berbeda. Yang satu membawa kebahagiaan, yang lain membawa penderitaan.

Sebagai orang yang mencari kebahagiaan, tentu kita harus pandai-pandai memilih mana yang berguna bagi kita dan mana yang merugikan. Setelah kita mengerti bahwa keadaan akusala ini menghalangi kita mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya, kita akan berusaha melenyapkan keadaan akusala tersebut dalam diri kita dan mengembangkan keadaan kusala.

Akusala

Keadaan akusala dipelopori oleh lobha, dosa, dan moha. Apapun yang dipelopori oleh ketiga hal ini, baik ketika berbuat, berucap, maupun berpikir akan menghasilkan penderitaan sebagai akibatnya. Masalah akan timbul jika mereka muncul. Karena itu, penting sekali untuk menyadari penyebab penderitaan ini agar kita dapat menghindarinya.

Tujuan kita belajar Dhamma (pariyatti) adalah untuk menyadari adanya akusala dalam diri kita. Pengertian Dhamma yang kita miliki akan memungkinkan kita untuk menyadarinya. Karena tanpa menyadarinya, kita tidak akan mampu untuk melenyapkannya.

Kemudian, sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah, kita akan mulai untuk mempraktikkan Dhamma dalam kehidupan kita, sehingga mulailah terjadi penyesuaian antara pengetahuan intelektual dengan tingkah laku kita. Apa yang kita ketahui sebagai kebaikan secara teori, akan mulai kita terapkan, sehingga pengetahuan yang kita miliki akan berguna bagi kita. Jika Dhamma tidak kita jalankan, maka tidak akan berguna dan tidak akan mendatangkan hasil apapun.

Halusnya Kilesa

Dalam aksinya, kilesa atau kekotoran batin, bekerja dengan cara yang sangat halus, sehingga kita akan mudah tertipu olehnya. Meskipun kita sudah mengetahui dan berusaha menjalankan Dhamma dengan baik, menjaga ucapan, perbuatan serta pikiran kita, tetapi di saat kita lengah maka kilesa akan muncul dan menguasai kita.

Tanpa kita sadari, kita sudah melakukan hal-hal akusala. Pada saat itu kita akan mudah melanggar sila, mengucapkan kata-kata yang kasar, menyakiti orang lain, bersikap semena-mena, mementingkan diri sendiri, ataupun marah-marah, dan sebagainya. Setelah keadaan ini terjadi, kita menjadi tenang kembali, dapat menguasai diri, barulah kita menyesalinya. Kenapa saya berbuat demikian? Pada saat itu, kita mungkin bertekad untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Tetapi, lagi-lagi, di kemudian hari, ketika kita lengah, kita melakukan kesalahan lagi. Dan, lagi-lagi kita menyesalinya, lagi-lagi kita melakukannya. Begitu seterusnya.

Kalau kita amati hal di atas, kita akan mengetahui betapa pentingnya Dhamma, ajaran Sang Buddha. Dhamma ini membuat kita menyadari apa yang baik dan buruk, dan juga dapat menjadi pengingat bagi kita. Di kala kita lengah dan kemudian kita mengingat Dhamma, kita akan menjadi lebih sadar.

Berhubung kita masih memiliki sisi yang buruk, kita membutuhkan semacam peta atau petunjuk jalan bagi kita. Dhamma inilah yang dapat kita jadikan sebagai kompas dalam menjalani kehidupan (sasara), sehingga kita tidak akan tersesat, kita akan aman dan sampai pada tujuan. Meskipun kita melalui hutan belantara, tetapi akan berbahaya jika kita sampai salah melangkah.

Tujuh Anusaya

Hal-hal yang dapat kita hindari agar tidak salah melangkah adalah tujuh Anusaya atau Kekotoran Batin yang Laten, yaitu:
a. Nafsu keinginan Indria (kāmarāga)
b. Mudah tersinggung (paigha)
c. Melekat pada pandangan-pandangan keliru (diṭṭhi)
d. Keraguraguan (vicikicchā)
e. Kesombongan (māna)
f. Melekat pada kehidupan (bhavarāga)
g. Ketidaktahuan (avijjā)

(Aguttara Nikāya II, ii.)

Anusaya ini dikatakan sebagai laten karena walaupun mereka tidak muncul di pikiran, tetapi sebenarnya mereka tidak lenyap. Mereka berdiam jauh di bawah sadar kita. Mereka hanya beristirahat sejenak. Dan setiap saat, jika ada kondisi yang tepat, jika ada rangsangan yang kecil sekalipun, mereka dapat segera muncul kembali dengan kekuatan yang besar dan akan menguasai kita kembali.

Meskipun kita mengetahui masih memiliki ketujuh hal ini dalam diri kita, dan mungkin saja kita sedang dikuasai olehnya saat ini, tetapi kita mulai menyadari bahwa mereka sesungguhnya berbahaya. Mereka adalah musuh kita yang menyebabkan kita sengsara sehingga kita mulai enggan berurusan dengan mereka. Kita mulai tidak terlalu mempedulikan emosi yang muncul. Seandainya mereka muncul, kita tidak perlu menganggapnya terlalu penting, dan tidak perlu mengikutinya.

Pada saat ini, kita mulai menyadari penyebab masalahnya adalah kita sendiri. Kita masih memiliki hal-hal negatif dalam diri kita. Tetapi kita tidak perlu merasa kecewa dengan diri sendiri. Karena bagaimanapun keadaan kita, kita dapat berubah menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi.

”Tinggalkanlah kejahatan, O para bhikkhu! Para bhikkhu, manusia dapat meninggalkan kejahatan. Seandainya saja manusia tidak mungkin meninggalkan kejahatan, Aku tidak akan menyuruh kalian melakukannya. Tetapi karena hal itu dapat dilakukan maka Kukatakan, ’tinggalkan kejahatan!’
Seandainya saja meninggalkan kejahatan ini akan membawa kerugian dan penderitaan, Aku tidak akan menyuruh kalian meninggalkan kejahatan. Tetapi karena meninggalkan kejahatan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan, maka Kukatakan, ’tinggalkan kejahatan!’ ”,
Sumber: Gradual Sayings (Aguttara Nikāya) II, ii.

(8 Juni 2008)

oleh: Bhikkhu Indadhiro

Iklan