Lokiya Dhamma dan Lokuttara Dhamma

 

Ada dua sisi dhamma:
I. Lokiya dhamma: Dhamma-dhamma dunia yang sudah dikuasai, seperti paham bagaimana menjadi orangtua yang baik, dll.
II. Lokuttara dhamma: Dhamma-dhamma yang sudah paham cara bebas dari dhamma dunia, seperti vipassana bhavana adalah contoh lokuttara dhamma, begitupula samatha bhavana. Karena dari salah satu ini akan berujung Pencerahan Sepenuhnya (Kebuddhaan). Lengkapnya Lokuttara Dhamma adalah:
1. Sotapatti magga: Sedang berlatih memahami apa maksud tak ada diri, keraguan pada ajaran Dhamma, dan kemelekatan pada moral dan ritual/tradisi.
2. Sotappati phala: Tercerahkan dalam memahami apa maksud tak ada diri, keraguan pada ajaran Dhamma, dan kemelekatan pada moral dan ritual/tradisi.
Seorang Sotapanna lahir paling banyak 7 kali lagi.
3. Sakadagami magga: Sedang berlatih menghapus dendam dan iri, sesudah lulus 3 di atas.
4. Sakadagami phala: Sudah lemah dendam dan irinya, juga sudah lulus 3 di atas.
Seorang Sakadami lahir sekali lagi di alam manusia, dan sekali lagi berikutnya di alam surga.
5. Anagami magga: Berusaha terhapus dendam dan irinya, agar sekaligus lulus 5 belenggu.
6. Anagami phala: Sudah lulus menghancurkan 5 belenggu.
Seorang Anagami cuma lahir sekali masuk ke surga khusus para Anagami, dimana hidup cuma untuk berlatih menjadi Buddha.
7. Arahat magga:
a. Tak ingin terikat dengan kenikmatan 8 level meditasi.
b. Berusaha membuang sombong, resah (karena masih ingin nikmat akibat masih bodoh, tamak, dan benci).
c. Ingin tahu mana ilmu yang perlu dan mana yang tak perlu.
8. Arahat phala: Sudah lulus menghancurkan ke-10 belenggu yang disebut samyojana itu.
Arahat sudah bebas dari isi dan abadi sebagai kekosongan.
9. Nibbana: Keadaan lepasnya seseorang dari kehidupan dan kematian.

Keadaan kembalinya setetes air menjadi lautan (isi sebenarnya kosong, dan “kosong sebenarnya isi”) bukanlah keadaan saat menjadi Buddha, itu keadaan menjadi Brahma atau Tuhan.
Keadaan menjadi Buddha lebih tepatnya adalah saat tak punya kesadaran sebagai apapun juga (isi tetap isi dan kosong tetap kosong, atau isi sebenarnya kosong dan kosong tetap kosong. keduanya sama benarnya).

Nagarjuna berpendapat isi tetap dibagian isi, dan kosong tetap di bagian kosong.
Jika dikatakan isi adalah kosong, kosong tetap kosong, tapi sebenarnya saat isi adalah kosong, pikiran sedang beralih tentang kekosongan. Jadi Nagarjuna tetap benar dengan pendapatnya.
Bagaimanapun banyak orang belum siap mendengar pendapat Nagarjuna itu, jadi saya lebih sering menjelaskannya sebagai: isi adalah kosong, sedang kosong tetap kosong.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: