Lokiya Dhamma dan Lokuttara Dhamma

 

Ada dua sisi dhamma:
I. Lokiya dhamma: Dhamma-dhamma dunia yang sudah dikuasai, seperti paham bagaimana menjadi orangtua yang baik, dll.
II. Lokuttara dhamma: Dhamma-dhamma yang sudah paham cara bebas dari dhamma dunia, seperti vipassana bhavana adalah contoh lokuttara dhamma, begitupula samatha bhavana. Karena dari salah satu ini akan berujung Pencerahan Sepenuhnya (Kebuddhaan). Lengkapnya Lokuttara Dhamma adalah:
1. Sotapatti magga: Sedang berlatih memahami apa maksud tak ada diri, keraguan pada ajaran Dhamma, dan kemelekatan pada moral dan ritual/tradisi.
2. Sotappati phala: Tercerahkan dalam memahami apa maksud tak ada diri, keraguan pada ajaran Dhamma, dan kemelekatan pada moral dan ritual/tradisi.
Seorang Sotapanna lahir paling banyak 7 kali lagi.
3. Sakadagami magga: Sedang berlatih menghapus dendam dan iri, sesudah lulus 3 di atas.
4. Sakadagami phala: Sudah lemah dendam dan irinya, juga sudah lulus 3 di atas.
Seorang Sakadami lahir sekali lagi di alam manusia, dan sekali lagi berikutnya di alam surga.
5. Anagami magga: Berusaha terhapus dendam dan irinya, agar sekaligus lulus 5 belenggu.
6. Anagami phala: Sudah lulus menghancurkan 5 belenggu.
Seorang Anagami cuma lahir sekali masuk ke surga khusus para Anagami, dimana hidup cuma untuk berlatih menjadi Buddha.
7. Arahat magga:
a. Tak ingin terikat dengan kenikmatan 8 level meditasi.
b. Berusaha membuang sombong, resah (karena masih ingin nikmat akibat masih bodoh, tamak, dan benci).
c. Ingin tahu mana ilmu yang perlu dan mana yang tak perlu.
8. Arahat phala: Sudah lulus menghancurkan ke-10 belenggu yang disebut samyojana itu.
Arahat sudah bebas dari isi dan abadi sebagai kekosongan.
9. Nibbana: Keadaan lepasnya seseorang dari kehidupan dan kematian.

Keadaan kembalinya setetes air menjadi lautan (isi sebenarnya kosong, dan “kosong sebenarnya isi”) bukanlah keadaan saat menjadi Buddha, itu keadaan menjadi Brahma atau Tuhan.
Keadaan menjadi Buddha lebih tepatnya adalah saat tak punya kesadaran sebagai apapun juga (isi tetap isi dan kosong tetap kosong, atau isi sebenarnya kosong dan kosong tetap kosong. keduanya sama benarnya).

Nagarjuna berpendapat isi tetap dibagian isi, dan kosong tetap di bagian kosong.
Jika dikatakan isi adalah kosong, kosong tetap kosong, tapi sebenarnya saat isi adalah kosong, pikiran sedang beralih tentang kekosongan. Jadi Nagarjuna tetap benar dengan pendapatnya.
Bagaimanapun banyak orang belum siap mendengar pendapat Nagarjuna itu, jadi saya lebih sering menjelaskannya sebagai: isi adalah kosong, sedang kosong tetap kosong.

Iklan

Carita

Carita berarti sifat, perangai, atau perilaku.

Di dalam Abhidhamma, terdapat pembagian sifat-sifat secara umum yang berdasarkan atas keadaan batin manusia, yaitu manusia itu dapat dibagi menjadi enam golongan berdasarkan sifat-sifat yang dimilikinya:
1. Orang yang keras nafsu lobanya atau Ragacarita
2. Orang yang keras kebenciannya atau Dosacarita
3. Orang yang bodoh (dungu) atau Mohacarita
4. Orang yang tebal keyakinannya atau Saddhacarita
5. Orang yang bijaksana (pandai) atau Buddhicarita
6. Orang yang suka melamun atau Vitakkacarita

Orang yang mempunyai ragacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan loba, cenderung ke arah keindahan dan kecantikan, kagum melihat suatu kebajikan walaupun itu kecil sekali, mudah melupakan kesalahan orang lain, cerdik, sombong, berambisi besar, mementingkan diri sendiri. Untuk mereka yang mempunyai ragacarita, maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah sepuluh asubha dan satu kayagatasati.

Orang yang mempunyai dosacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan kebencian, cenderung ke arah panas hati, suka marah, suka jengkel, suka iri hati, tak senang melihat kesalahan walaupun kecil, tak mau tahu terhadap kebajikan orang lain walaupun besar, suka bermusuhan, memandang rendah orang lain, suka memerintah dan mendikte orang lain.

Untuk mereka yang mempunyai dosacarita, maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah empat appamañña dan empat kasina (nila kasina, pita kasina, lohita kasina, dan odata kasina).

Orang yang mempunyai mohacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan kebodohan batin, cenderung ke arah kelemahan batin, suka bingung, suka ragu-ragu, suka khawatir, menggantungkan diri pada pendapat orang lain, pikiran ruwet, malas, pendiriannya tidak tetap, kadang-kadang kukuh memegang suatu pandangan. Untuk mereka yang mempunyai mohacarita, maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah anapanasati.

Orang yang mempunyai saddhacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan keyakinan, cenderung ke arah rendah hati, dermawan, jujur, suka menemui orang-orang suci, suka mendengarkan Dhamma, yakin pada sesuatu yang dianggap baik. Untuk mereka yang mempunyai saddhacarita, maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah enam anussati (Buddhanussati, Dhammanussati, Sanghanussati, silanussati, caganussati, dan devatanussati).

Orang yang mempunyai buddhicarita atau ñanacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan berhati-hati, cenderung ke arah perenungan terhadap Tiga Corak Umum (Tilakkhana), sering bermeditasi, bersedia mendengarkan omongan orang lain, mempunyai kawan-kawan yang baik. Untuk mereka yang mempunyai buddhicarita atau ñanacarita, maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah marananussati, upasamanussati, aharapatikulasañña, dan catudhatuvavatthana.

Orang yang mempunyai vitakkavcarita melaksanakan sesuatu berdasarkan tergesa-gesa, cenderung ke arah kegugupan, kegagalan dalam usaha, suka berteori, pikirannya sering berkeliaran, tidak suka bekerja untuk kepentingan sosial. Untuk mereka yang mempunyai vitakkacarita, maka obyek yang cocok untuk melaksanakan Samatha Bhavana ialah anapanasati.

Penjelasan:

Pathavi kasina, apo kasina, tejo kasina, vayo kasina, aloka kasina, akasa kasina, dan empat arupa dapat dijadikan obyek meditasi oleh semua orang tanpa memperhatikan caritanya.


Anusaya

 

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

“Janganlah terus menggunakan pikiran untuk memikirkan segala hal, karena ia belum pernah diistirahatkan. Tetapi apabila hal-hal jahat muncul, maka seharusnya gunakan pikiran untuk memeriksanya” –  Saṁyutta Nikāya I, 14.

Dua Macam Keadaan

Dalam diri seorang manusia, seperti kita ketahui, ada dua hal yang saling bertentangan, yaitu keadaan yang baik (kusala) dan yang buruk (akusala). Dua keadaan ini masing-masing membawa dampak yang berbeda. Yang satu membawa kebahagiaan, yang lain membawa penderitaan.

Sebagai orang yang mencari kebahagiaan, tentu kita harus pandai-pandai memilih mana yang berguna bagi kita dan mana yang merugikan. Setelah kita mengerti bahwa keadaan akusala ini menghalangi kita mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya, kita akan berusaha melenyapkan keadaan akusala tersebut dalam diri kita dan mengembangkan keadaan kusala.

Akusala

Keadaan akusala dipelopori oleh lobha, dosa, dan moha. Apapun yang dipelopori oleh ketiga hal ini, baik ketika berbuat, berucap, maupun berpikir akan menghasilkan penderitaan sebagai akibatnya. Masalah akan timbul jika mereka muncul. Karena itu, penting sekali untuk menyadari penyebab penderitaan ini agar kita dapat menghindarinya.

Tujuan kita belajar Dhamma (pariyatti) adalah untuk menyadari adanya akusala dalam diri kita. Pengertian Dhamma yang kita miliki akan memungkinkan kita untuk menyadarinya. Karena tanpa menyadarinya, kita tidak akan mampu untuk melenyapkannya.

Kemudian, sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah, kita akan mulai untuk mempraktikkan Dhamma dalam kehidupan kita, sehingga mulailah terjadi penyesuaian antara pengetahuan intelektual dengan tingkah laku kita. Apa yang kita ketahui sebagai kebaikan secara teori, akan mulai kita terapkan, sehingga pengetahuan yang kita miliki akan berguna bagi kita. Jika Dhamma tidak kita jalankan, maka tidak akan berguna dan tidak akan mendatangkan hasil apapun.

Halusnya Kilesa

Dalam aksinya, kilesa atau kekotoran batin, bekerja dengan cara yang sangat halus, sehingga kita akan mudah tertipu olehnya. Meskipun kita sudah mengetahui dan berusaha menjalankan Dhamma dengan baik, menjaga ucapan, perbuatan serta pikiran kita, tetapi di saat kita lengah maka kilesa akan muncul dan menguasai kita.

Tanpa kita sadari, kita sudah melakukan hal-hal akusala. Pada saat itu kita akan mudah melanggar sila, mengucapkan kata-kata yang kasar, menyakiti orang lain, bersikap semena-mena, mementingkan diri sendiri, ataupun marah-marah, dan sebagainya. Setelah keadaan ini terjadi, kita menjadi tenang kembali, dapat menguasai diri, barulah kita menyesalinya. Kenapa saya berbuat demikian? Pada saat itu, kita mungkin bertekad untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Tetapi, lagi-lagi, di kemudian hari, ketika kita lengah, kita melakukan kesalahan lagi. Dan, lagi-lagi kita menyesalinya, lagi-lagi kita melakukannya. Begitu seterusnya.

Kalau kita amati hal di atas, kita akan mengetahui betapa pentingnya Dhamma, ajaran Sang Buddha. Dhamma ini membuat kita menyadari apa yang baik dan buruk, dan juga dapat menjadi pengingat bagi kita. Di kala kita lengah dan kemudian kita mengingat Dhamma, kita akan menjadi lebih sadar.

Berhubung kita masih memiliki sisi yang buruk, kita membutuhkan semacam peta atau petunjuk jalan bagi kita. Dhamma inilah yang dapat kita jadikan sebagai kompas dalam menjalani kehidupan (sasara), sehingga kita tidak akan tersesat, kita akan aman dan sampai pada tujuan. Meskipun kita melalui hutan belantara, tetapi akan berbahaya jika kita sampai salah melangkah.

Tujuh Anusaya

Hal-hal yang dapat kita hindari agar tidak salah melangkah adalah tujuh Anusaya atau Kekotoran Batin yang Laten, yaitu:
a. Nafsu keinginan Indria (kāmarāga)
b. Mudah tersinggung (paigha)
c. Melekat pada pandangan-pandangan keliru (diṭṭhi)
d. Keraguraguan (vicikicchā)
e. Kesombongan (māna)
f. Melekat pada kehidupan (bhavarāga)
g. Ketidaktahuan (avijjā)

(Aguttara Nikāya II, ii.)

Anusaya ini dikatakan sebagai laten karena walaupun mereka tidak muncul di pikiran, tetapi sebenarnya mereka tidak lenyap. Mereka berdiam jauh di bawah sadar kita. Mereka hanya beristirahat sejenak. Dan setiap saat, jika ada kondisi yang tepat, jika ada rangsangan yang kecil sekalipun, mereka dapat segera muncul kembali dengan kekuatan yang besar dan akan menguasai kita kembali.

Meskipun kita mengetahui masih memiliki ketujuh hal ini dalam diri kita, dan mungkin saja kita sedang dikuasai olehnya saat ini, tetapi kita mulai menyadari bahwa mereka sesungguhnya berbahaya. Mereka adalah musuh kita yang menyebabkan kita sengsara sehingga kita mulai enggan berurusan dengan mereka. Kita mulai tidak terlalu mempedulikan emosi yang muncul. Seandainya mereka muncul, kita tidak perlu menganggapnya terlalu penting, dan tidak perlu mengikutinya.

Pada saat ini, kita mulai menyadari penyebab masalahnya adalah kita sendiri. Kita masih memiliki hal-hal negatif dalam diri kita. Tetapi kita tidak perlu merasa kecewa dengan diri sendiri. Karena bagaimanapun keadaan kita, kita dapat berubah menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi.

”Tinggalkanlah kejahatan, O para bhikkhu! Para bhikkhu, manusia dapat meninggalkan kejahatan. Seandainya saja manusia tidak mungkin meninggalkan kejahatan, Aku tidak akan menyuruh kalian melakukannya. Tetapi karena hal itu dapat dilakukan maka Kukatakan, ’tinggalkan kejahatan!’
Seandainya saja meninggalkan kejahatan ini akan membawa kerugian dan penderitaan, Aku tidak akan menyuruh kalian meninggalkan kejahatan. Tetapi karena meninggalkan kejahatan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan, maka Kukatakan, ’tinggalkan kejahatan!’ ”,
Sumber: Gradual Sayings (Aguttara Nikāya) II, ii.

(8 Juni 2008)

oleh: Bhikkhu Indadhiro

Politik Kerakyatan

 

Suatu kali Sang Buddha berkata, “Ketika penguasa suatu negara adil dan baik para menteri menjadi adil dan baik; ketika para menteri adil dan baik, para pejabat tinggi adil dan baik; ketika para pejabat tinggi adil dan baik, rakyat jelata menjadi baik; ketika rakyat jelata menjadi baik, orang-orang menjadi adil dan baik”. (Anguttara Nikaya)

Di dalam Cakkavatti Sihananda Sutta, Sang Buddha berkata bahwa kemerosotan moral dan kejahatan seperti pencurian, pemalsuan, kekerasan, kebencian, kekejaman, dapat timbul dari kemiskinan. Para raja dan aparat pemerintah mungkin menekan kejahatan melalui hukuman, tapi menghapus kejahatan malalui kekuatan, takkan berhasil.

Dalam Kuradanda Sutta, Sang Buddha menganjurkan pengembangan ekonomi sebagai ganti. Kekuatan untuk mengurangi kejahatan. Pemerintahan harus menggunakan sumber daya negara untuk memperbaiki keadaan ekonomi negara. Hal itu dapat dimulai pada bidang pertanian dan pengembangan daerah pedalaman, memberikan dukungan keuangan bagi pengusaha dan perusahaan, memberi upah yang cukup bagi pekerja untuk menjaga suatu kehidupan yang layak sesuai dengan martabat manusia.

Dalam Jataka, Sang Buddha telah memberikan 10 aturan untuk pemerintahan yang baik, yang dikenal sebagai “Dasa Raja Dhamma”. Kesepuiuh aturan ini dapat diterapkan bahkan pada masa kini oleh pemerintahan manapun yang berharap dapat mengatur negaranya. Peraturan-peraturan tersebut sebagai berikut:
1. Sering memberi.
2. Mempraktekkan pancasila Buddhist.
3. Peduli terhadap kepentingan perkembangan masyarakat.
4. Bebas kolusi korupsi nepotism.
5. Memperlakukan setiap orang dengan baik dan menjaga kehormatannya.
6. Hidup seperti apadanya.
7. Tak punya benci atau niatjahat terhadap siapapun.
8. Tanpa kekerasan.
9. Tak mendendam.
10. Tak menghalangi setiap kehendak rakyat selama itu baik.

Mengenai perilaku para penguasa, Beliau lebih lanjut menasehatkan:
* Seorang penguasa yang baik harus bersikap tidak memihak dan tak berat sebelah terhadap rakyatnya.
* Seorang penguasa yang baik harus bebas.dari segala bentuk kebencian terhadap rakyatnya.
* Seorang penguasa yang baik harus tidak memperlihatkan ketakutan apa pun dalam penyelenggaraan hukum jika itu dapat dibenarkan.
* Seorang penguasa yang baik harus memiliki pengertian yang jernih akan hukum yang diselenggarakan. Hukum harus diselenggarakan tidak hanya karena penguasa mempunyai wewenang untuk menyelenggarakan hukum. Dan.dikerjakan dalam suatu sikap yang masuk akal dan dengan pikiran sehat, (Cakkavati Sihananda Sutta).

16 Nana

1. NAMA-RUPA PARICCHEDA NANA – PENGETAHUAN MEMBEDAKAN JASMANI DAN BATIN. yaitu batin dapat mengenal jasmani sedangkan jasmani tidak dapat mengenal batin.
2. PACCAYA PARIGGHANA NANA – PENGETAHUAN MENGENAI SEBAB DAN AKIBAT. yaitu …disebabkan oleh karna timbulnya fenomena2 dari pada jasmani dan batin maka timbullah pula kesadaran yg mengetahuinya. timbulnya fenomena2 dari pada jasmani dan batin adalah sebab sedangkan kesadaran yg mengetahuinya adalah akibat.
3. SAMMASANA NANA – PENGETAHUAN MENGENAI ANICCA, DUKKHA DAN ANATTA. yaitu memahami hukum perubahan yakni timbul dan tenggelam (anicca), karna sesuatu yg timbul kemudian tenggelam kembali maka tidak memuaskan (dukkha), karna sesuatu hanya timbul kemudian tenggelam kembali maka tiada inti (anatta).
4. UDABBAYA NANA – PENGETAHUAN MENGENAI TIMBUL DAN LENYAPNYA PROSES-PROSES. yaitu memahami fenomena2 dari pada jasmani dan batin yg timbul kemudian lenyap kembali dengan cepat.
5. BHANGA NANA – PENGETAHUAN MENGENAI PELEBURAN. yaitu karna fenomena2 dari pada jasmani dan batin telah berproses dengan cepat maka disini yogi hanya melihat leburnya saja.
6. BHAYA NANA – PENGETAHUAN MENGENAI KETAKUTAN. yaitu setelah melihat fenomena2 dari pada jasmani dan batin yg hanya mengalami peleburan saja maka timbul ketekutan karna tidak ada sesuatu yg dapat di pegang.
7. ADINAVA – PENGETAHUAN MENGENAI KABUR DAN MEMBOSANKAN. yaitu karna tidak ada sesuatu yg dapat dipegang maka timbul kebosanan yg disebabkan oleh karna tujuan yg kabur/tidak jelas.
8. NIBBIDA NANA – PENGETAHUAN MENGENAI KEJENUHAN DAN KEJELEKAN. yaitu karna tujuan kabur kemudian bosan maka memandang segala sesuatu menjadi jenuh dan jelek.
9. MUNCITUKAMYATA NANA – PENGETAHUAN MENGENAI TEGANG, GELISAH DAN PUTUS ASA. karna tujuan kabur kemudian bosan dan memandang segala sesuatu menjadi jenuh dan jelek maka timbul perasaan tegang, gelisah dan putus asa.
10. PATISANKHA NANA – PENGETAHUAN PERASAAN SEPERTI TERSIKSA, INGIN BERHENTI LATIHAN. karna tujuan kabur kemudian bosan dan memandang segala sesuatu menjadi jenuh dan jelek lalu timbul perasaan tegang, gelisah dan putus asa maka timbul perasaan seperti tersiksa sehingga ingin menghentikan latihan.
11. SANKARUPEKKHA NANA – PENGETAHUAN MENGENAI KESEIMBANGAN. yaitu setelah melalui fase2 tsb maka batin menjadi seimbang.
12. ANULOMA NANA – PENGETAHUAN MENGENAI ANICCA, DUKKHA DAN ANATTA SEMAKIN JELAS. yaitu setelah batin menjadi tenang dan seimbang maka yogi akan memahami anicca, dukkha dan anatta dengan lebih jelas lagi.
13. GOTRABHU NANA – PENGETAHUAN MENGENAI DIAM, TENANG DAN DAMAI. yaitu setelah batin menjadi tenang dan seimbang dan yogi telah memahami anicca, dukkha dan anatta dengan lebih jelas lagi maka batin yogi menjadi lebih diam, hening, tenamg dan damai.
14. MAGGA NANA – PENGETAHUAN MENGENAI JALAN. yaitu setelah batin menjadi tenang dan seimbang dan yogi telah memahami anicca, dukkha dan anatta dengan lebih jelas lagi lalu batin yogi menjadi lebih diam, hening, tenamg dan damai maka yogi telah memahami jalan ini.
15. PHALA NANA – PENGETAHUAN MENGENAI HASIL ATAU PAHALA. yaitu setelah batin menjadi tenang dan seimbang dan yogi telah memahami anicca, dukkha dan anatta dengan lebih jelas lagi lalu batin yogi menjadi lebih diam, hening, tenamg dan damai lalu yogi telah memahami inilah jalan/metode, lalu telah memahami pula dengan jelas bahwa inilah hasil dari pada latihan/phala.
16. PACCAVEKKHANA NANA – PENGETAHUAN MENGENAI PERTIMBANGAN DAN PERENUNGAN kEMBALI. yaitu setelah batin menjadi tenang dan seimbang dan yogi telah memahami anicca, dukkha dan anatta dengan lebih jelas lagi lalu batin yogi menjadi lebih diam, hening, tenamg dan damai sehingga yogi telah memahami inilah jalan/metode, kemudian yogi juga telah memahami dengan jelas bahwa inilah hasil dari pada latihan/phala. lalu yogi merenungkan kembali jejak jalan yg telah pernah yogi tempuh. dengan demikian seiring dengan majunya tingkat spiritual yogi maka yogi akan semakin trampil dalam asavakkhaya nana dan magga phala nana, lalu latihan yogi secara bertahap akan semakin maju hingga mencapai ARAHAT.

Membangun Keharmonisan Hidup

 

Membangkitkan lima kekuatan batin yakni ; 1. saddha = keyakinan, 2. virya = semangat, 3. sati = perhatian, 4. samadhi = konsentrasi, 5. panna = kebijaksanaan.
kemudian melenyapkan lima rintangan batin yakni ; 1. kamma chanda = keterikatan terhadap nafsu indriawi, 2. byapada = niat buruk, 3. tinamida = lesu/ngantuk,4. viccikicca = ragu2, 5. uddaccakukucca = gelisah.
lalu kembangkan 7 faktor penerangan yakni ; 1. sati = perhatian, 2. dhamma vicaya = penyelidikan dhamma, 3. virya = semangat, 4. piti = kegiuran, 5. passaddhi = keheningan/ketenangan, 6. samadhi = konsentrasi, 7. upekkha = keseimbangan.
lantas berjalan di atas 8 jalan utama yakni ; 1, sammaditthi = pandangan benar, 2. sammasankappo = pikiran benar, 3. sammavacca = ucapan benar, 4. sammakammanto = perbuatan benar, 5. samma-ajivo = pencaharian benar, 6. sammavayamo = daya upaya benar, 7. sammasati = perhatian benar, 8. sammasamadhi = konsentrasi benar.

Kalimat Vipassana terdiri dari pada dua suku kata yaitu vi dan pasana. vi berarti lebih dari satu/beraneka ragam sedangkan passana berarti mengamati/mengetahui/melihat/memperhatikan/menyadari. apa bila kedua suku kata ini digabungkan maka V…IPASSANA berarti : dengan perhatian penuh, menerima, berminat, pasrah dan bersemangat mengamati setiap timbul dan lenyapnya fenomena2 dari pada jasmani dan batin secara berkesinambungan adalah VIPASSANA.
apakah fenomena2 dari pada jasmani dan batin itu ?
fenomena2 dari pada jasmani dan batin adalah :
1. Sensasi2 jasmani seperti panas, dingin, sakit, kesemutan, ngilu, gatal, bergetar, bergerak dll.
2. Sensasi batin seperti sedih, bahagia, jenuh, bosan, tertekan, takut, cemas, khawatir, puas, bangga, terharu, kecewa, stres, depresi dan perasaan2 lainnya.
3. Aktifitas batin seperti lamunan, khayalan, ingatan, rencana2, cita2, angan2, renungan2, analisa dll.
Bila anda dengan perhatian penuh, menerima, berminat, pasrah dan bersemangat mengamati setiap timbul dan lenyapnya fenomena2 dari pada jasmani dan batin secara berkesinambungan, maka sesungguhnya anda sedang berlatih pengendalian diri hasilnya adalah perhatian anda akan menjadi lebih kuat, konsentrasi anda juga akan menjadi lebih kuat sehingga pemahaman anda menjadi lebih bijaksana lalu keyakinan anda akan menjadi lebih kuat sehingga anda akan lebih bersemangat melatih diri lalu latihan anda akan lebih maju sehingga anda akan memahami tingkat demi tingkat pengetahuan vipassana hingga anda bisa merealisasi Nibbana.

Sikap Meditasi

3 Tingkat Samadhi
1. Khanika samadhi: konsentrasi memulai, yaitu konsentrasi dengan penampakan obyek baru dimulai (Parikamma Nimitta), masih muncul lenyap muncul lenyap. Ciri-ciri mental pada tahap ini adalah belum mengendapnya nivarana/rintangan meditasi.
2. Upacara samadhi: Konsentrasi berusaha mencapai, yaitu konsentrasi dengan obyek mulai bertahan tampak (Uggaha Nimitta). Ciri-ciri mental pada tahap ini adalah mengendapnya nivarana/rintangan meditasi.
3. Appana samadhi/jhana: Konsentrasi penuh, yaitu pikiran mengelola obyek yang bisa dikontrol (Patibhanga Nimitta). Ciri-ciri mental pada tahap ini adalah ketiadaan Nivarana dengan mendominasinya ciri-ciri meditasi (Jhananga) secara menonjol dan intensif.

Nimitta
Nimitta artinya suatu pertanda atau gambaran yang ada hubungannya dengan perkembangan obyek meditasi. Nimitta ini ada tiga macam, yaitu :
1. Parikamma-Nimitta (gambaran batin permulaan)
2. Uggaha-Nimitta (gambaran batin mencapai)
3. Patibhaga-Nimitta (gambaran batin berlawanan)
Mengenai parikamma-nimitta, gambaran suatu obyek yang diambil dalam meditasi, seperti patung Buddha, mula-mula dilihat dengan mata, kemudian dibayangkan dalam pikiran. Jadi, parikamma-nimitta merupakan gambaran atau bentuk dari obyek dalam keadaan yang sebenarnya. Semua obyek (empat puluh macam obyek meditasi) dapat menghasilkan parikamma-nimitta.
Mengenai uggaha-nimitta, gambaran suatu obyek yang diambil dalam meditasi dilihat dengan batin, hingga obyek itu melekat dalam pikiran. Jadi, uggaha-nimitta merupakan gambaran obyek di dalam batin yang sama dengan bentuk obyek yang dipakai, walaupun mata telah dipejamkan. Untuk mencapai uggaha-nimitta, semua obyek meditasi dapat dipakai dalam melaksanakan Samatha Bhavana, yaitu keempat puluh obyek meditasi yang tersebut terdahulu.
Mengenai patibhaga-nimitta, gambaran suatu obyek yang diambil dalam meditasi yang telah melekat pada pikiran, terpeta dengan nyata, tetap, jernih, jelas, terbebas dari gangguan, dan gambaran obyek tersebut dapat dibesarkan serta dikecilkan menurut kemauan. Jadi, patibhaga-nimitta merupakan gambaran pantulan dari obyek yang dipakai, yang bentuk gambaran itu berubah menjadi sinar terang di dalam batinnya. Untuk mencapai patibhaga-nimitta, maka obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah sepuluh kasina, sepuluh asubha, satu kayagatasati, dan satu anapanasati.
Nimitta bukan berarti obyek meditasi (40 kammatthana) ataupun obyek vipassana (21 satipatthana). Nimitta artinya penampakan dari obyek.

Meditasi

 

MEDITASI YG BENAR ADALAH MEDITASI YG MENGIKUTI PETUNJUK SAMMASAMBUDDHA YAITU JALAN TENGAH ATAU JALAN BERUNSUR DELAPAN. JALAN TENGAH ADALAH SATU JALAN YG TIDAK BERAT SEBELAH KIRI DAN JUGA TIDAK BERAT SEBELAH KANAN, BILA JALAN TENGAH INI DIJA…BARKAN DALAM BAHASA LATIHAN MAKA BOLEH DIKATAKAN JALAN TENGAH ADALAH KESEIMBANGAN YAITU KESEIMBANGAN JASMANI DAN KESEIMBANGAN BATIN.
APAKAH KESEIMBANGAN JASMANI DAN KESEIMBANGAN BATIN ITU ?
KESEIMBANGAN JASMANI ADALAH BILA EMPAT UNSUR (ANGIN, API, TANAH DAN AIR) DALAM KONDISI YG HARMONIS YAITU JASMANI KITA DALAM KEADAAN RELAX DAN TDK TEGANG.
KESEIMBANGAN BATIN ADALAH BILA BATIN KITA DALAM KONDISI HARMONIS YAITU BATIN KITA DALAM KEADAAN DAMAI DAN BAHAGIA SERTA TENANG DAN TENTRAM.
OLEH SEBAB ITU KESEIMBANGAN JASMANI DAN KESEIMBANGAN BATIN SANGAT AMAT DIPERLUKAN. APAPUN JENIS LATIHAN ANDA APAKAH SAMATHA ATAU VIPASSANA. APAPUN OBJEK LATIHAN ANDA APAKAH ANAPANASATI ATAU NAIK TURUN NYA PERUT ANDA PERLU MENYELARASKAN LATIHAN ANDA HINGGA MENCAPAI KESEIMBANGAN BAIK JASMANI MAUPUN BATIN.
LALU BAGAIMANA CARANYA AGAR DAPAT MENYELARASKAN LATIHAN KITA HINGGA MENCAPAI KESEIMBANGAN JASMANI DAN KESEIMBANGAN BATIN ?
AGAR DAPAT MENYELARASKAN LATIHAN ANDA HINGGA MENCAPAI KESEIMBANGAN JASMANI DAN BATIN ANDA PERLU MENGAWALI LATIHAN ANDA DGN SATISAMPAJANA SEBAGAI RELEXASI YANG SEBENARNYA.
RELAXASI DAPAT MENGENDURKAN OTOT2 JASMANI ANDA YG TEGANG SEHINGGA JASMANI ANDA AKAN MENJADI SEMAKIN SEJUK DAN NYAMAN.
SETELAH ANDA MERASAKAN RELEX DAN TENANG BARULAH ANDA MULAI MENGAMATI OBJEK YANG UTAMA.
DGN LATIHAN YG TEKUN DAN TERATUR, MEDITASI ANDA AKAN MAJU SECARA BERTAHAP LALU ANDA AKAN SEMAKIN TRAMPIL MENGKONDISI JASMANI DAN BATIN ANDA DALAM KESEIMBANGAN KEMUDIAN JASMANI DAN BATIN ANDA AKAN MENJADI LEBIH RELEX DAN TENANG LALU LATIHAN ANDA AKAN SEMAKIN MAJU SEHINGGA TERCAPAILAH KONDISI BATIN YG SEHAT YAITU BATIN YG DAMAI DAN BAHAGIA SERTA TENANG DAN TENTRAM.

5 Rintangan Batin

Batin kita tidak tentram adalah disebabkan oleh karna batin kita terhalangi oleh 5 rintangan batin yakni: Kamachanda (nafsu keinginan yg melekat), byapada (niat buruk), thinamidha (kemalasan dan kelelahan), viccikiccha (ke-ragu2an) dan uddaccha kukkuccha (gelisah dan cemas).

1. Kamachanda (nafsu keinginan yang melekat) adalah ketika 6 landasan indria kita kontak dengan objeknya masing-masing yaitu: mata melihat, telinga mendengar, hidung membau, lidah mengecap, fisik menyetuh dan batin mengingat, pada saat terjadinya kontak maka akan timbul pro dan kontra dalam batin kita, apa bila objek yg menyenangkan maka kita akan melekat padanya, sebaliknya apa bila objek yg tidak menyenangkan maka kita akan menolaknya. disebabkan oleh karna objek yg sangat menyenangkan lalu kita melekat padanya, namun apa bila objek yg menyenangkan itu telah lenyap maka kita akan mencari lagi, bila kita tidak menemukannya lagi maka kitapun akan kecewa sehingga batin kita akan tidak puas atau jengkel dsbnya, ini adalah salah satu sebab mengapa batin kita tidak tentram.

2. Byapada (niat buruk) adalah karna kita ingin mendapatkan sesuatu lalu kita menghalalkan segala cara dengan menyusun siasat kemudian timbul niat buruk untuk mencelakakan orang lain. ini adalah salah satu sebab mengapa batin kita tidak tentram.

3. Thinamidha (kemalasan dan kelelahan) adalah karna kelelahan atau malas sehingga tidak bersemangat atau ngantuk. ini adalah salah satu sebab mengapa batin kita tidak tentram.

4. Viccikiccha (ke-ragu2an) adalah karna tidak yakin terhadap tujuan sehingga bingung menentukan arah yg akan menjadi tujuannya. ini adalah salah satu sebab mengapa batin kita tidak tentram.

5. Uddaccha kukkuccha (gelisah dan cemas) adalah kekhawatiran yg berlebihan sehingga timbul gelisah dan cemas. ini adalah salah satu sebab mengapa batin kita tidak tentram.

Ini adalah 5 rintangan yg berakibat batin kita tidak tentram, agar batin kita dapat tentram maka kita perlu mengembangkan 5 kekuatan, bila 5 kekuatan kita telah berkembang maka kita akan mampu melenyapkan 5 rintangan batin sehingga batin kita menjadi damai dan bahagia serta tenang dan tentram.

5 Kekuatan

Semua orang memiliki lima kekuatan yakni saddha/keyakinan, virya/semangat, sati/perhatian/kesadaran, samadhi/konsenterasi, panna/kebijaksanaan. orang awam yg belum pernah berlatih pengembangan batin umumnya lima kekuatan mereka lemah oleh sebab itu tidak memiliki kekuatan memotong. melalui latihan vipassana yg tekun dan teratur maka secara bertahap lima kekuatan kita akan menjadi semakin kuat bila latihan kita telah mulai maju maka keyakinan kita akan bertambah, bila keyakinan kita telah kuat maka semangat latihan akan timbul, bila kita bersemangat melatih diri maka perhatian/kesadaran kita akan menjadi semakin kuat dan tajam, bila perhatian/kesadaran kita telah kuat dan tajam maka konsentrasi/samadhi akan terbentuk, bila batin anda telah mencapai samadhi maka anda akan mampu memotong /melenyapkan emosi2/getaran2 negatif/positif yg mencengkram di jasmani dan batin anda kemudian pikiran anda akan menjadi jernih lalu anda akan mampu melihat lebih jelas mana yg baik untuk kita lakukan dan mana yg buruk yg perlu kita tinggalkan . lalu secara bertahap anda akan menjadi semakin bijaksana kemudian anda akan dapat menjalankan kehidupan ini dengan batin yg sejuk dan nyaman, damai dan bahagia serta tenang dan tentram hingga mencapai nibbana di kemudian hari.